Headlines News :
Home » » Sketsa Dan Prospek Masa Depan Sebagai Gerakan Kemasyarakatan Berbasis Kinerja Kemanusiaan, Kebudayaan, dan Pemberdayaan

Sketsa Dan Prospek Masa Depan Sebagai Gerakan Kemasyarakatan Berbasis Kinerja Kemanusiaan, Kebudayaan, dan Pemberdayaan

Written By Bagja Su on Sunday, 1 January 2012 | 15:29

LIGA MUSLIM INDONESIA
Sketsa Dan Prospek Masa Depan
Sebagai Gerakan Kemasyarakatan Berbasis
Kinerja Kemanusiaan, Kebudayaan, dan Pemberdayaan
  • Iftitah
  • Mukadimah
  • Sejarah ringkas
  • Generasi Perintis
  • Visi, misi dan strategi
  • Fokus Kejuangan 2011-2016
  • Khatimah prospek

IFTITAH........
Bisjmi ’I-Lahi ’r-Rahmani ’r-Rahimi/ Alhamdu li ’I-Lahi Rabbi ’I-Alamina. Wa bihi na ‘s-ta’na ‘ala umuri ‘d-dunya Wa ‘d-dina Wa ‘sh-shalatu wa ‘s-salamu ‘ala asyrafi ‘I-anbiyya’i wa syafi’ina wa mawlana Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa‘s-salim ajma ‘ina.......amma ba’du:
Adalah suatu keharusan bagi setiap organisasi pergerakan, pengkaderan dan pengembangan keswadayaan masyarakat yang sadar akan tugas dan tanggung jawab sejarahnya’ untuk memiliki media komunikasi intelektual yang representif, yang mereflesikan bukan saja muatan pemikiran dan gagasan-gagasan bernas yang di tuangkan di dalam media tersebut, melainkan juga harapan akan bangkitnya suatu neo-renesans yang dicerminkan oleh perspektif dan personalitas “who’s who”-nya. Parallel denganraison d’entre bagi perlunya media komunikasi, adanya dukungan publisitas yang memadai, yang memungkinkan terjadinya komunikasi data dan pemikiran yang bersifat interaktif di dalam masyarakat, menempati posisi yang sangat strategis dalam proses kreatif dan diakletis-hermeunetis di dalam masyarakat. Dengan demikian, kebutuhan akan adanya triumvirat media komunikasi intelektual, dukungan publisitas, dan interaksi pemikiran yang sehat, adalah suatu “keniscayaan sejarah” (historical necessity) yang tak dapat ditawar lagi kewigatiannya’ sebab penafian atas hal ini berarti penafian atas jiwa risalah, karakter insanilah dan tuntutan fitrah manusia sendiri, yang pada saatnya nanti, sooner or later, dapat berakibat fatal bagi dinamika, kesinambungan dan pe-rubahan tatanilai serta proses regenerasi di dalam ‘batang tubuh’ ummat sendiri. Bila telah demikian, maka ‘buah quldi’ terpahit yang kita petik di kemudian hari tidak lain adalah “involusi peradaban” yang akan menjadi “kuburan missal” bagi anak cucu kita tercinta, dengan generasi kita kiwari bertindak sebagai “algojo” sekaligus “ penggali kubur”-nya! Alangkah nista dan menge-rikannya “amal shalih” dan “bekal akhirat” yang akan kita jadikan hujjah di hadapan Allah kelak...!




****
Sadar akan posisi politik, peran kritis dan tanggung jawab sejarah yang harus diembannya, baik sebagai anak bangsa, sebagai warga dunia maupun sebagai bagian yang tak terpisahkan dari entitas Wihdatul ‘I-ummah, LIGA MUSLIM INDONESIA (LMI) merasa perlu memohon perkenan “mahkamah sejarah” untuk memperkenalkan diri sebelum berkiparah di haribaan “Ibu Pertiwi”, yang saat ini tengah dirundung pilu oleh berbagai kekerasan, kerusuhan, tindak kekerasan , luapan keberingasan, sepak penindasan, dan terjang kezaliman serta pelabagi perilaku lajak pembawa petaka dan angkara murka yang bukan saja telah mengoyak dan mencabik rasa dan raga, tetapi juga telah mempermalukan keluarga kita di mata dunia! Semoga, di sela suasana hati sebagian besar anak bangsa nan remuk redam dan penuh dengan gejolak ketidak pastian ini, keha-diran LMI sungguh-sungguh mampu mene-barkan salam, membawa suluh perdamai-an, mencerahkan batin dan pemikiran, menghidupkan jiwa, memelopori kemajuan serta mencerlangkan pendar perada-ban yang kian memudar dan hampir punah ini. Hanya kepada-nya kami ber-gantung, dan kepada-nya juga lah kami kembalikan segala urusan.... Allhu Akbar, Allhu Akbar, Allhu Akbar, Allhu Akbar...........,Wa li ‘I-Lahi ‘I-Hamd......!




MUKADIMAH: LATAR BELAKANG


Latar Historis
Setelah melampaui faset-faset kritis yang sangat menetukan pada decade ’40-an hingga ’60-an--- tepatnya semenjak perdebatan tentang kedudukan konstitu-sional islam dalam kerangka kenegaraan yang terjadi selama siding-sidang BPUPKI dan PPKI berlangsung, komulatif-nya ‘historical tragedy’ dekrit Presiden 5 juli 1959 yang meng-aborsi embrio ‘kemenangan’ islam dan ‘ “demokrasi” dalam sidang-sidang konstituante, berbagai gejolak politik akut ekstra keagamaan, bermotifkan kekecewaan para elit politik bernuansakan kekecewaan daerah terhadap “Jawa” hingga gagalnya upaya ‘reinkarnasi’ masyumi via parmusi tahun 1968—seyogyanya lah komunitas islam Indonesia, baik komunitas intelektual, komunitas budaya, komunitas polity, komunitas ako-nomi, ‘ulama dan fuqaha, maupun para vanguards of ideology, melakukan resetting, reformatting dan repositioning atas ruh islam secara lebih substansial, holistic dan komprehensif, serta berwawasan (lebih) mondial.


Hal ini mutlak perlu di lakukan, terutama jika ingat bahwa “Al-Islam”lah, dan bukan yang lain-lain (:others can only follow), yang berhasil muncul sebagai a liberating force bagi seluruh komponen inti bangsa ini via a vis kolonialisme dan imperialesme asing (sapnyol, portugis, belanda, inggris dan jepang), yang tanpa ini semua, mustahil akan terwujud The Golden Bridge’ (kemerdekaan nasional 1945)! Bukankah “Al-Islam” pula yang menjadi ‘buaian’ bagi buyung ideology dan gerakan “Komunisme” dan “Nasionalisme Radikal” di pakan ‘lahan persemaian’ yang subur (:constituency) bagi tumbuh kembangnya keduanya?!


Kiranya inilah yang dicoba dilakukan oleh para ‘lokomotif pembaharu’ pemikiran Islam, sejarawan, dan budayawan muslim pada awal decade ’70-an dan mencapai klimaksnya pada decade ’80-an, serta memiliki tarikan perspektif yang kuat pada decade ’90-an hingga memasuki millennium ke-3 ini, yang pada intinya menekankan tiga hal, yakni: (1) keharusan kembali makna keberagamaan hakiki mealalui eks-plorasi kritis kreatif atas sumber-sumber otentik keagamaan, bukannya simbol-simbol sosiologis, historis, dan politis yang telah established dan kerap terkabut oleh aura personal, quasy consciousness serta ke-terbatasan otoritas para mufassir dan exegeses-nya, (2) menyertakan metodologi dan paradigm saintifik dalam menafsirkan maksud dan makna terdalam cita-cita spiritual, pesan moral, dan prinsip-prinsip hokum serta jiwa syari’ah yang sejati, baik secara tematik-kontekstual, maupun (secara) bi ‘I-ma’tsur, dan (3) kedua kaidah di atas mesti dikerangkakan kedalam perspektif ‘kemodernan sejarah’ (historical modernity), sebagai suatu keniscayaan yang tidak mungkin terhindarkan, karena ‘kemodernan sejarah’ adalah condition sine qua non bagi munculnya penafsiran dan pemikiran keagamaan yang berilian, kritis dan praxis, dan inilah tajdid itu!


Akan tetapi, in the mean time, parallel dengan para rausyanfikr dalam meletakan dasar-dasar tajdid (pembaha-ruan pemikiran), kondisi obyektif ummat dalam bidang politik, ekonomi, kebudayaan, ideology dan hak sipil selama orde baru berkuasa, justru berada pada titik pre-valensi yang sangat memprihatinkan. Berbagai produk politik hokum, kebikjakan public dan strategi bela Negara atas nama “keutuhan bangsa” dan ‘kedaulatan rakyat” yang berhasil membusukan islam secara ekonomi, mendeskreditkan islam secara cultural, men-stereotipkan islam secara ideologis, serta menindas, mengoyak, menganiaya dan merobek-robek kehormatan dan hak-hak asasi umat (serta martabat agama tentunya), begitu dahsyat dilancarkan oleh rezim otoritarian orde baru.


Tatkala pemerintahan tansisi BJ habibie berusaha melakukan radical turning point dengan maksud memutar pendulum sejarah ke arah yang dituntut oleh repormasi sejati, amat sulit dimungkiri, terlebih dinafikan kesan bahwa enersi besar yang bermain dibalik seluruh resis-tensi yang dilancarkan oleh para oposisi demikian kuat menyiratkan sesuatu yang sangat meresahkan jiwa dan menggelisahkan batin, ada konspirasi besar dan global anti reformasi yang bekerja secara sistematis dan komprehensif yang tengah gencar melancarkan perang semesta terhadap kekuatan-kekuatan pro-reformasi dengan berlindung di balik baju demo-kratisasi dan penegakan HAM, maka tiada jalan lain “isyhadu bianna na muslimin” adalah sikap terbaik yang mesti ditunjukan oleh setiap individu muslim yang independen dan pro-repormasi


Latar Normatif-ideologis
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rosul yang sungguh telah diutus pula rasul-rasul lain sebelumnya. Apakah jika ia (muhammad) wafat atau terbunuh, kalian akan berkhianat dengan berbalik kembali kepada komitmen nilai dan orentasi hidup “pra-islam”? sungguh, barang siapa berkhianat tak sedikit pun ia/mereka mampu memudiaratkan Allah, dan Allah pasti akan mengganjar hamba-hambanya yang bersyukur (QS 3.144)


Inilah rasion d’etre dan entry point bagi tegaknya humanisme sejagat yang sekaligus merupakan condition sine qua non bagi tersemainya perdamaian dan keadilan serta ekuilibrium social kesinambungan misi dan estafeta Risalah ! bagi para pendamba kebenaran yang sadar betul bahwa estafeta risalah haram terputus dan pantang mengenal kata “jeda” apalagi “jera”, tak ada pilihan lain yang lebih baik kecuali “cita-cita terwujud atau maut menjemput”.


KATA PUTUS : BANGKITNYA LMI
Bertolak dari qawa’idu ‘li’tiqadiyyah, aspek tarikhat (sejarah dan latar belakang makro) serta aspek siyasah yang melatari, serta didorong oleh hasrat tulus untuk melanjutkan cita-cita risalah yang telah dipelopori oleh para sabaquna (Awwalun, maka Liga Muslim Indonesia (LMI) siap ditempa kawah candradimuka !




Demikianlah, sekolompok anak muda Jakarta, Bandung, Bogor, Sukabumi, Semarang, Malang dan Surabaya. Sebagian besar jebolan institute dan universitas negeri dan swasta termuka, setelah selama lebih dari sepuluh tahun malang melintang di dunia da’wah, pada hari kamis siang tanggal 12 syawal 1416 H. Bertepatan dengan tanggal 29 Februari 1996, di Pondok Halimum, Sukabumi berikrar untuk bersatu dalam wadah da’wah, tarbiyyah wa ta’dibiyyah, tashwiru i-afkariyah, jihad, amar ma’ruf nahyi munkar yang diberi nama “Liga Muslim Indonesia” disingkat LMI. Berbasiskan ulama dan santri pondok, aktivis mesjid kampus dan seksi ruhani fakultas, aktivis orsosmas / OKP lain, kalangan peneliti, akademisi serta pegawai negeri, sebagian kalangan bisnis dan professional berbagai bidang dan tak ketinggalan pula mantan-mantan preman pasar, anak-anak jalanan serta para “maniac demo” maka dimulailah kiprah LMI melaluipenyelenggaraan “Pesantren Kilat untuk SD, SMP, SMU se Jawa Barat” pada tanggal 23-30 Juni 1996 disalah satu pondok pesantren yang menjadi main linkage dan leading base camp LMI, yakni Pondok Pesantren Terpadu (PTT) “Al-Istiqomah” Pasirmalang, Sukabumi dengan DR. Jimly Ash-Shiddiqie SH, staff ahli sekaligus sekretaris Mendikbud RI (Waktu itu Prof. Wardiman Djojonegoro). Bertindak selaku wakil cendekiawan Muslim dan pejabat pemerintah pusat yang meresmikan perhelatan tersebut. Pada tahun berikutnya, dengan menggandeng Pondok Pesantren “AL-Istiqamah” Sukabumi dan Pemda Kabupaten DT II Sukabumi serta Gerakan Wakaf buku dan pengembangan masyarakat (GWBPM)ICMI pusat, LMI tampil sebagai steering committee dan penyedia “modul kerja” bagi para instruktur dalam acara “perkemahan buku nasional I” di cibadak (juli 1997), yang peresmiannya dilakukan oleh menpora Ir. Akbar Tanjung, dan ditutup secara resmi oleh H. Adi sasono (sekretaris umum ICMI pusat) pada tahun 1998 tepatnya bulan oktober dengan meng-gandeng pondok pesantren “darut taqwa” cibinong dan BKSPPI (badan kerja sama pondok pesantren indonesia) pemda kabupaten DT II bogor dan GWBPM ICMI kembali LMI menjadi main arranger and steering committee dalam acara raimuna pramuka, jaringan koperasi pondok pesantren se-kabupaten bogor dan perkemahan buku nasional II di bumi perkemahan cibinong bogor yang dibuka secara resmi oleh prof. Jose Roesma, Ph.D deputy ketua BPPT. Sebelumnya tepatnya dalam bulan april-juli 1998, DPP LMI mencanangkan pendirian dan pengukuhan koperasi syari’ah mandiri di 20 provinsi seluruh Indonesia, tatkala kekejaman razim otoritarian soeharto terbongkar (agustus 1998) di aceh melalui skandal pemberlakuan DISTA aceh sebagai daerah operasi militer (DOM) selama 10 tahun (1989-1998), DPP LMI melalui divisi kemanusiaan yang bernama “yayasan gardamadina” yang berkedudukan di manggeng, kabupaten aceh selatan terlibat aktif dalam aksi kemanusiaan guna membantu para korban tindak kekerasan (para janda, anak yatim dan anak-anak terlantar)dalam bentuk bantuan pendidikan, kesehatan dan sarana lainnya.




Tatkala konflik berdarah bernuansa SARA meledak pada bulan januari 1999 (pada saat idul fitri 1419) dan terus berlanjut hingga bulan januari 2000....bahkan lebih dahsyat dan sangat memilukan ini...LMI lebih tertegak untuk menggalang secara langsung aksi-aksi demo yang dimaksudkan untuk menggugah sikap pemerintahan presiden Gus Dur agar lebih serius dan lebih cekatan dalam menangani konflik yang amat mencoreng wajah Indonesia dimata dunia itu, disamping tetap melanjutkan aksi kemanusiaan dalam bentuk pangan, sandang dan medis, kini dengan focus kegiatan pada bidang-bidang :
Pengembangan SDM dalam bentuk iptek, bisnis, manajemen dan keuangan serta pers dan jurnalistik
Rekayasa kependidikan untuk generasi masa depan
Pemihakan kongret terhadap rakyat kecil dan ekonomi kerakyatan
LAW Enforcement, human right Watch and Echological Conservation
Telah dan rekomdasi atas berbagai perencanaan pengawasan dan implementasi kebijakan public
Pemberdayaan perempuan, kau ibu dan anak-anak serta remaja
Pemerhatian masalah-masalah politik dan keamanan nasional serta isyu-isyu strategis dan international




GENERASI PERINTIS
Alhamdulillahi, para founding generation LMI yang saat kini dudukan sebagai mursyid, hakim dan fuqaha serta marja kami bukanlah sekedar orang-orang baru, dalam dunia pergerakan islam lebih jauh mereka bahkan telah merasakan dinginnya sel dan terali besi serta bengisnya perlakuan para opsir penjara tatkala mereka harus mendekam di bui demi menegakkan kalimahnya yang haqiqi mereka itu antara lain adalah :




KH. Moh. Royanuddin AS (Ponpes “al-istiqomah” sukabumi), KH moh munif sayuti, KH, Ghazin Abdullah dan KH. Saiful Hukama sayuti (ketiganya berasal dari pemekasan, madura) yang sempat membuat debut dengan menyelamatkan lokomotif reformasi nasional Mas amin rais dari upaya “assasination” atas dirinya pada bulan September 1998 di pasuruan dan Madura, sedangkan presiden/ketua presi-dium nasional LMI sendiri adalah aktivis pers dan HMI di masa mahasiswanya dahulu (wakil ketua kops instruktur HMI jaya 1982-1983 kabid pendidikan HMI jaya 1984-1985 wakil ketua lembaga pers mahasiswa UNAS, 1984-1985).






VISI, MISI DAN STRATEGI




v Visi Kejuangan LMI :
Islam ab intio dan in toto adalah agama peradaban match dan fit in dengan kemodernan sejarah dan sofistikasi teknologi islam dengan emanasi dan cahayanya, akan membimbing manusia kedalam cosmic harmony antara iman dan ilmu antara aql dan qalbu serta antara pikiran dan perasaan.
Islam adalah agama kemanusiaan kebajikan dan ketuhanan sekaligus manusia akan sampai pada derajat tertingginya secara intrinsic dan sadar melakukan peniruan akan atribut-atributnya ke tengah masyarakat bukan dengan asketisme sejati islam berhasil ditapaki dan jiwa asketisme islam yang demikian adalah jihad fii sabiilillah.
Islam adalah agama kemanusiaan dan keadilan, tidak ada agama dan kemanusiaan tanpa keadilan; tidak akan pernah ada keadilan tanpa pembebasan yang sejati adalah tawhid; maka tiada agama kemanusiaan dan keadilan tanpa tawhid
Islam agama perjuangan, ikhtiar dan do’a; tiada kinerja perjuangan tanpa etos kerja tanpa pegangan keyakinan; sebaik-baik pegangan keyakinan adalah hari pembalasan dan pengadilan(Yawmu I-Akhir); maka agama yang haqiqi adalah agama yang senantiasa mengingatkan manusia akan keutamaan, kemuliaan dan tanggung jawab yawmu I-akhir
Islam adalah agama mizan, hadid dan kitab dengan kitab disemaikan salam cinta kasih dan persaudaraan kepada sesame dengan hadid ditumpas habis akar-akar perbudakan kemungkaran dan exploitation de I’homme par I’home dengan kitab dan hadid, maka mizan (keadilan dan ekuilibrium sosial) akan tercipta


v Misi kejuangan LMI
Gerakan Pembebasan Bangsa Indonesia khususnya, dan Bangsa lain umumnya dari segala hal yang merintangi terwujudnyatanya persamaan, kemerdekaan dan keadilan secara paripurna.


v Strategi Perjuangan LMI


Kaidah dasar
Kaidah dasar perjuangan LMI adalah uswah, sunnah dan ibrah para nabi dan rasul a.s dalam
menebarkan ajaranilahi dan menaburkan rahmat bagi sekalian alam, yakni :
Hijrah, setelah dilambari oleh iman dan lanjutkan dengan jihad
Bara’ah setelah berpegang pada keyakinan dan kepastian furqan
Istitha’ah dengan disiplin kepada ketentuan organisasi dan iman
Istiqamah dengan azzam “ muut syahidan aw’isy kariiman




Metode Operatif
Metode operatif yang kami jadikan sandaran perjuangan adalah manhaj nubuwwah, yang bila dirinci kerangka pokoknya adalah :
Da’wah
Tarbiyah wa’t-ta’dibiyyah
Ijtihad
Jihad fii sabilillah
Amar ma’ruf nahyi munkar
Inqilabiyyah, yakni penghapusan tatanilai jahili menuju pandangan dunia islamy


FOKUS KEJUANGAN LMI 2010-2015
Dilandasi spirit mewujudkan segenap tujuan organisasi, dengan merujuk kepada manhaj perjuangan dan pemetaan atas kemampuan Subjektif maupun medan juang objektif yang dihadapi, maka dalam kurun Lima tahun yang akan datang LMI memfokuskan eksistensinya sebagai Gerakan Kemasyarakatan yang solid, profesional dan berpengaruh berbasis kinerja kemanusiaan, Kebudayaan dan Pemberdayaan, dengan rincian pokok pikiran antara lain:


Matra Kemanusiaan
Pada matra ini, LMI bermaksud mengembangkan berbagai aktivitas yang merefleksikan sikap sigap dan tanggap terhadap segala hal yang mengakibatkan terancamnya Hak dan Kewajiban Asasi Manusia, baik yang ditimbulkan oleh alam maupun oleh sesama manusia. Kejadian bencana alam maupun social yang acapkali terjadi dan mengakibatkan kerusakan fisik maupun social perlu diinterpretasi dan direhabilitasi melalui persepektif teologis dan eskatologis Islam. Baik dalam analisa dan penanganan atas dampak-dampak yang ditimbulkannya maupun sebab-sebab manusiawi yang mendasarinya.


2. Matra Kebudayaan
Pada matra ini, LMI memandang ragam kebudayaan modern dan popular yang berkembang hegemonik dan kian menjauhkan Bangsa Indonesia dari Nilai-nilai Keagamaan patut direspon strategis dengan mendayagunakan asset budaya lokal/tradisional. Bahwa budaya tradisional yang pernah dipergunakan Para Wali sebagai Penyebar Utama Islam di bumi Nusantara perlu direvitalisasi bersandarkan nilai-nilai tawhid.


3. Matra Pemberdayaan
Pada matra ini, LMI memandang persoalan kesejahteraan merupakan isu krusial yang cukup berpengaruh terhadap derajat spiritualitas individu-individu dalam masyarakat. Oleh karenanya diperlukan berbagai terobosan strategis yang mampu memberdayakan potensi dan kapasitas masyarakat dalam mengakses derajat kesejahteraan sesuai standard manusiawi secara layak dan berkeadilan.
Dengan demikian, parameter keberhasilan LMI dalam menebar rahmat dan salam kedepan diukur berdasarkan kemampuannya untuk secara pro-aktif, responsif dan partisipatif dalam pengembangan berbagai kebijakan dan kegiatan dalam tiga matra utama di atas.


KHATIMAH : PROSPEK
Presiden habibie menyediakan penggung politik presiden gus dur menyediakan momentum politik bagi kebangkitan kaum “oposan” demikian seseorang analis politik kenamaan berujar bagi LMI yang meyakini arti penting perjuangan oposisi loyal yang kritis dan tentu saja juga konstruktif dalam membangun iklim politik, ekonomi dan budaya yang lebih demokratis di tanah air sebagai mana diamanatkan oleh cita-cita reformasi wacana ini dapat dianggap sebagai adanya indikasi “peluang” dapat pula diabaikan! Dalam perjalanan menjelang 100 hari pemerintahan gus dur, kita menyaksikan masih demikian banyak pekerjaan rumah yang mesti kita selesaikan bersama. Dilain pihak, tantangan-tantangan berat di millennium ke-3 bukan pula sekedar isapan jempol dengan melihat konstatasi politik ekonomi, kebudayaan dan keberadaan kelompok sipil serta tingkat resitensi komunitas bisnis kita dewasa ini bila menghadapi invasi investasi,industry informasi, teknologi dan ideology-ideologi besar dunia kenegri kita...yang walaupun tidak Nampak secara kasat mata namun terlihat jelas melalui kiprah dan wacana yang mereka tunjukan , , , adalah wajar bila DPP LMI merasa cukup optimis dapat memainkan peran yang cukup signifikan dalam hirup-pikuk perpolitikan, perekonomian dan perjuangan pemberdayaan “ Civil Society” di masa depan, ini sama sekali bukanlah arogansi politik melainkan semata-mata spirit untuk berbuat yang terbaik bagi umat, bangsa dan Negara tercinta ini, seperti yang dikatakan oleh mendiang presiden jhon F. Kennedy “ ask not what yor country can do for you, but ask what you can do for your country! Insya Allah


Salam Ta’zhim
DPP LIGA MUSLIM INDONESIA
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Liga Muslim Indonesia - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template